Latest News

Mencari Tuhan ke Rangkasbitung

Matakatolik.com-Minggu pagi itu cerah. Pagi-pagi sekali kami berkumpu di stasiun Tanah Abang. Memang tidak semua. Ada yang memilih berkumpul di stasiun ... Kami yang menamakan diri, Orang Muda Katolik- Gerakan Suka Menolong (OMK-GSM) memulai perjalan rohani, Minggu, 3 Juni 2017 itu dari Stasin Tanah Abang. Tepat pukul 07.00 kereta api yang kami tumpangi mulia melaju menuju Rangkasbitung. Pada hari penuh rahmat ini, kami ingin menepi dari besingnya ibu kota. Kami ingin menyatakan puji dan syukur kepada sang pemilik kehidupan ini, bersama alam di provinsi Banten. Sepanjang perjalanan, kami saling berbagi cerita. Ada canda dan tawa satu dengan yang lain. Kami saling berkenalan, karena kami satu keluarga besar walupun kami berasal dari paroki yang berbeda. Sambil menikmati perjalan penuh persaudaraan ini, sesekali kami mengabdikan moment ini, dengan kamera Handphone. Bagi kami perjalanan ini adalah satu ziara iman. Mencari bentuk lain untuk mendekatkan diri pada sang Kuasa. Tentu tidak sebatas untuk serafik (berdoa bersama alam). Perjalan ini juga bentuk refreshing yang efektif untuk tidak membeku di rumah. Udara segar dan matahari pagi menyambut kami di kota Rangkasbitung. Setelah dua jam dalam perjalanan akhirnya kami tiba di stasiun Rangkasbitung. Hiruk-pikuk masyarakat Rangkasbitung, mengantar perjalanan kami dari stasiun menuju terminal Rangkasbitung. Dari Terminal, dua mikrolet berwarna merah tua yang kami tumpangi berarak-arakkan menuju tempat tujuan utam kami, Gua Maria Bukit Kanada Rangkasbitung. Kegembiraan luar biasa terpancar dari wajah kami, masing-masing saat berhenti didepan Gua Maria. Lima menit waktu yang kami perlukan untuk sampai tujuan kami. Seakan tak ingin kehilangan waktu, begitu tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 peserta langsung melakukan prosesi Jalan Salib. Menyusuri jalan menanjak dan menurun, baik dengan kondisi jalan dengan tanah kosong maupun berbatu. Dengan penuh perhatian dan keseriusan p eserta melewati 14 perhentian yang dibangun di bawah pohon-pohon rindang. Kehidupan rohani itu menjadi nyata dalam acara jalan salib yang dilakukan pada siang itu. “Saya tidak menyangka kalau teman-teman begitu semangat dan mau melakukan acara rohani ini,” kata Ketua OMK-GSM, Marsel Gual. Di bawah terik mentari yang menyengat tepatnya pukul 11.00 WIB, kami mengadakan jalan salib. Walau Matahari semakin memanas dan seakan membakar kulit kami, namun semangat sedikitpun tdak memudar. Semangat kami membara, seperti Yesus tidak berhenti ditengah jalan. Kami tegar menyelesaikan ibadat jalan salib ini, walau tidak seberat dan seganas yang dialami yesus dua ribu tahun yang silam. Di setiap perhentian secara kompak kami mendaraskan berdoa Salam Maria. Tidak ada kata lelah. Kami melakukanya disetiap perhentian. Sesuatu yang luar biasa, bukan? Usai prosesi jalan salib, peserta sempat mengabadikan moment-moment penting di tempat yang indah dan alami itu. Kami hanya manusia biasa. Kami perlu energi baru. Tenaga baru. Maka pada pukul 13.00 WIB, kami makan bersama. Suasana persudaraan dan penuh kasih sayang, kami rasakan. Sambil mencicipi hidangan ayam lalapan, dan sayur asam, peserta disuguhi kisah-kisah menarik dan lucu dari beberapa peserta yang membuat suasana menjadi semakin ceriah. Tigapuluh menit kemudian peserta berdoa Rosarioa di Gua Maria. Dipimpin Gama Chandra, peserta terlihat khusuk berdoa lima peristiwa. Sebagai acara penutup, tepat pukul 14.00 WIB, peserta melakukan sharing. Pada kesempatan itu pula peserta diberi kesempatan untuk mengutarakan kesan dan pesan acara ini. Dalam suasana fraternitas, peserta antusias membagi cerita. Ada yang menceritakan kebahagiaan karena mengikuti acara ini, ada pula yang berbagi kisah hidup, sampai pada cerita cinta. Tak heran, karena mayoritas kelompok ini adalah orang muda yang belum punya pasangan hidup alias masih jomblo. Kami mengakhiri rankain perjalanan menemukan Tuhan ini tepat pukul 16.00. Kedamaian alam Rangkabitung ini seakan membuat kami tak ingin pergi dari tempat ini. Namun, kami sadar hidup ini harus berjalan terus. Kami harus pulang. Semangat kami masih berapi-api. Suasana canda-tawa masih menyelimuti perasaan kami. Walau harus mengakhiri kebersamaan ini. Sepanjang perjalanan pulang, di dalam kereta api, waktu, kami terus-menerus mengagumi dan memuji indahnya alam ciptaan tuhan. Kami juga gembira atas kebersamaan itu sembari bercanda ala anak muda. Adapun buah-buah iman yang sempat kami petik dari ziara iman ini. Menurut Ketua Panitia, Marthin Chandra, kegiatan ini dilakukan selain untuk tujuan wisata rohani, juga sebagai ajang rekreasi bagi anggota yang sehari-harinya bergelut dengan rutinitas masing-masing. Salah satu peserta yang tak mau disebutkan namanya mengapresiasi kegiatan ini. “Saya mengapresiasi kegiatan ini. Karena kegiatan ini bermanfaat bagi semua peserta. Salah satu manfaatnya adalah meningkatkan hidup rohani.” Dalam merefleksi kegiatan ini, setidaknya ada satu pertanyaan klasik, seperti apa peran orang muda dalam kegiatan rohani Gereja Katolik? Bukan hal baru kalau muncul sindiran dan penilaian negatif terhadap kaum muda Katolik. Dewasa ini boleh kita katakan, banyak diantara kita kaum muda yang cuek dengan hal-hal yang berbau rohani. Kaum muda tidak mau terlibat dalam acara rohani. Kalau pun terlibat, hanya saat-saat dibutuhkan saja. Kalau mau nikah baru ikut nimbrung di gereja. Tidak beda jauh dengan label orang Katolik KTP doank atau orang Katolik Napas (Natal Paskah). Benarkah demikian kenyataannya? Kesadaran membawa seseorang pada inti hidupnya. Orang yang bertindak tidak sadar akan menemukan jalan buntu. Pembelaan atau bantahan yang tidak sesuai kenyataan akan memalukan diri sendiri dan kelompok. Demikian juga tuduhan negatif tanpa fakta yang kuat akan memalukan. Orang akan mencap penuduh main hakim sendiri, asal tuduh tanpa menyentuh kenyataan. Ini bagian dari perjalanan (dinamika) kaum muda dalam gereja Katolik. Kegiatan ini sebenarnya adalah tanda-tanda ada harapan bahwa kaum muda sebenarnya tidak anti kegiatan rohani. Mereka juga mau dan ikut terlibat. Untuk memulainya perlu bantuan media yang pas. Salah satunya adalah melalui kegiatan bersama kaum muda seperti ini. Dalam kelompok yang sama (tempat kuliah dan umur) solidaritas akan tercipta. Karena solidaritas ini juga lah kelompok OMK-GSM bersatu mengikuti acara rohani di gua ini. Gua Maria Bukit Kanada berada di wilayah Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung – Keuskupan Bogor. Terletak tidak jauh dari Gereja Paroki Rangkasbitung atau sekitar 3 km dari pusat kota Rangkasbitung. Gua Maria ini telah dicanangkan oleh Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur sebagai Marian Center Keuskupan Bogor. Ervan-Matakatolik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published By Sahabat KRISTIANI