Latest News

Sebut nama Tuhan, Laura Lazarus Selamat dari Kecelakaan Lion Air


Matakatolik.Com - Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 pada Senin, 29 Oktober 2018 sungguh merupakan peristiwa yang memprihatinkan. Tapi, dibalik peristiwa ini tentu ada refleksi bersama bagi kita.

Seperti kesaksian menarik salah satu mantan pramugari Lion Air.

Beberapa hari belakangan namanya menjadi viral. Ia adalah Laura Lazarus.

Ia bukan korban Lion Air JT 610. Tapi, salah satu korban kecelakaan pesawat Lion Air di bandar udara Adi Sumarmo, Solo pada 30 November 2004 yang lalu.

Laura Lazarus, menjadi viral usai dirinya menceritakan upayanya selamat dari kecelakaan tersebut.

Dirinya bahkan dua kali mengalami kecelakaan bersama pesawat Lion Air.

Kecelakaan di bandar udara Adi Sumarmo Solo adalah yang kedua kali dialami Laura.

Peristiwa pertama terjadi di Palembang pada Juli 2004. Pada saat itu, pesawat keluar dari landasan pacu dan roda depan terbenam di lumpur.

Pesawat yang sama dengan nomor seri yang sama juga yang ia tumpangi saat mengalami kecelakaan di Solo, November 2004.

Dalam kecelakaan kedua ia mengalami luka parah.

"Sebagian muka saya hancur dan tulang pipi saya remuk," katanya.

Laura pun harus menjalani lebih dari 19 kali operasi untuk memulihkan kondisinya seperti semula.


"Saat itu tangan saya copot, pinggang patah, kaki patah, betis hilang setengah bagian," lanjutnya.

Ia mengatakan, kendati sudah beberapa kali dioperasi, namun tak mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula.

Pengalaman Laura Lazarus sungguh bikin haru.

Kendati demikian, ia mengatakan tetap bersyukur karena Tuhan masih mencintainya.

Ungkapan syukur itu ia pernah ceritakan  saat memberikan kesaksiannya saat peluncuran buku "The New Unbroken Wings" di Ruang Perpustakaan MPR RI, Jakarta, Kamis 28 Agustus 2014 yang lalu.

Pada saat itu Laura menceritakan, ia pernah dikumpulkan bersama jenazah, Korban musibah pesawat Lion Air di bandara Adi Sumarmo, Solo 30 November 2004.

"Saat itu cuaca memang tidak baik. Penerbangan kami kali ini disertai dengan goncangan-goncangan kecil, hujan dan suara petir juga terhalang awan-awan tebal,” katanya mengisahkan.


“Ada bunyi keras sekali. Disertai dengan goncangan sangat keras. Ini mengagetkan semua penumpang dalam pesawat. Semua berteriak histeris. Suasana menjadi gelap dan barang-barang berhamburan kemana-mana.”

“Sementara terjadi goncangan itu, saya sempat berteriak. Tuhan, tolong aku. Ada apa ini, Tuhan? Apapun yang terjadi, tolong aku, Tuhan,” ujar dia.

Rintihannya sayup-sayup terdengar. Mengagetkan petugas yang merapikan korban tewas.

Dalam kejadian itu Laura terus menyebut nama Tuhan.

"Tuhan saya ingin pulang." Ia pun langsung terbangun diantara tumpukan para korban yang dikira sudah meninggal oleh para tim penyelamat.

Setelah itu, kata dia, dirinya tidak tahu apa yang terjadi sampai akhirnya ada seorang bapak yang menemukan Laura di tumpukan para korban kecelakaan lainnya yang telah meninggal.

“Kondisiku saat itu sangat mengenaskan. Orang-orang mendugaku sebagai korban pramugari lain yang meninggal. Saya pun dilarikan ke rumah sakit dan sempat koma selama 8 hari. Akhirnya aku dibawa ke Singapura untuk mendapatkan operasi dan perawatan intensif karena luka serius di wajah dan kaki,” ungkap dia.

Ia mendatangi beberapa dokter, namun semuanya mengatakan sulit untuk disembuhkan.

Alasannya karena tulang kakinya mengalami pembusukan dan bernanah.

“Jalan satu-satunya menurut mereka (dokter) adalah kakiku harus diamputasi,” katanya.

Mendengar hal itu, ia dan ibunya terus membangkitkan iman kepada Tuhan.

“Supaya aku tidak menjadi lumpuh karena tidak ada kaki lagi. Tuhan menjawab doa kami. Kakiku berhasil sembuh tanpa harus diamputasi,” ujarnya.

Kejadian itu menjadi kesaksian Laura untuk dijadikan buku yang menurutnya dapat membangun iman para pembaca bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Matakatolik – Ervan Tou

G+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published By Sahabat KRISTIANI