Headline News

Wajah Baru Parlemen 2019 Suatu Harapan


Romo Peter C. Aman, OFM

Matakatolik.com-Karena saya bukan analis atau peneliti politik, maka pada hemat saya bicara tentang wajah baru Parlemen 2019, lebih merupakan suatu harapan dan bukan keyakinan.

Pertanyaannya adalah apa dasar kita berharap? Jika ada dasarnya, apakah dasar-dasar itu kokoh, kuat dan faktual serta potensial.

Jangan-jangan harapan itu lebih sebagai suatu ilusi daripada suatu potensi. Tentu para analis politik yang sudah hadir di sini bisa mengelaborasi lebih jauh hal itu.

Saya bukannya tidak mau optimis, walau untuk saat sekarang saya tidak pesimis juga, tetapi saya mencoba menjadi “optimis-realis”. Optimis-realis lebih sejalan dengan refleksi filosofis tentangn HARAPAN, sejak masa Yunani kuno.

Dalam filsafat,  “HARAPAN” termasuk tema minor, kecuali untuk Thomas Aquinas, Ernst Bloch dan Gabriel Marcel, yang membahas HARAPAN secara luas. Kendati merupakan tema minor, HARAPAN itu penting untuk manusia, terkait dengan motivasi, iman kepercayaan (keyakinan) dan politik.

HARAPAN itu berhubungan dengan: kehendak/keinginan, tujuan/maksud dan optimisme.

HARAPAN tidak hanya berhubungan dengan sesuatu di masa depan, entah itu hasil atau pencapaian (karena bisa saja hasil tidak sesuai dengan harapan); tetapi sesuatu yang ada dalam diri manusia: spirit optimisme yang memotivasi.

Sehingga kendati tidak berhasil, HARAPAN tidak sirna.

HARAPAN bisa rasional dan bisa juga irrasional. Aristoteles berpendapat bahwa harapan bisa disandingkan dengan keberanian; bisa juga berkaitan dengan ketakutan, sehingga umumnya HARAPAN dikaitkan dengan kerinduan orang-orang kalah, yang tidak rasional dan tak mampu (nrimo).

Satu-satunya yang tersisa adalah “berharap”. Seneca misalnya menghubungkan “harapan” dengan “ketakutan”, kedua-duanya penting menurut dia, karena mendorong manusia menuju masa depan dan menolak menyesuaikan diri dengan masa kini.

Dalam kisah Kotak Pandora versi Hesiodos dikatakan bahwa ketika semua jenis kejahatan keluar dari kotak Pandora, yang tertinggal hanya satu yakni HARAPAN.

Ada banyak tafsiran tentang hal itu, tetapi satu hal pasti untuk konteks kita: di tengah meluasnya pelbagai macam kejahatan sikap dan tindakan keji serta tak etis di tengah bangsa ini. Marilah kita merawat satu kebajikan tersisa yakni HARAPAN.

Atau bisa juga HARAPAN yang tersisa itu adalah symbol dari kematian karakter bangsa sehingga akhirnya tak berdaya untuk bangkit, lantas hanya  hanya nrimo (?).

Dalam Filsafat Politik dari Agustinus dari Hyppo, ia membedakan antara kota surgawi dan kota duniawi.

Kota surgawi adalah harapan masa depan yang berada dalam Allah (surga), tetapi menjadi “sumber referensi pokok” bagi orang manusia (Kristen) dalam kehidupan politik di masa kini.

Semua perilaku, sikap dan ideology politik harus mengambil referensi pada nilai-nilai dalam kota surgawi atau mengarah kepada nilai-ilai surgawi.

Di sini HARAPAN menjadi inspirasi dasar dari sikap, tindak tanduk atau ideology politik.

Misalnya: melawan korupsi. Mengapa harus melawan korupsi? Karena korupsi itu bertentangan dengan nilai dalam kota surgawi (mencuri) dan kedua supaya kondisi tanpa pencuri (seperti dalam kota surgawi itu) sekarang dialami dalam kota dunia ini.

Di sini HARAPAN  tidak lagi menjadi suatu kebajikan individual, tetapi kolektif, demi kebaikan bersama.

Perhatian pada HARAPAN mendorong politisi untuk menetapkan UU atau hukum, yang menjamin bahwa kebajikan-kebajikan surgawi itu, sudah bertumbuh dan berkembang di bumi ini.

Bagi Thomas Aquinas: HARAPAN selalu berhubungan dengan apa yang baik di masa depan.

HARAPAN berbeda dengan keinginan. Obyek HARAPAN bukan sesuatu hasil, tetapi sesuatu yang berada dalam kemungkinan; karena itu harapan mengandaikan pengakuan akan kemungkinan; harapan selalu berlandaskan pada pengalaman dan pengetahuan.

HARAPAN tanpa landasan pada pengalaman membuat orang tidak memperhitungkan halangan/kesukaran dan kesulitan; hal itu menyebabkan HARAPAN menjadi irasional.

HARAPAN yang berlandas pada pengetahuan akan kemungkinan kesulitan-kesulitan akan memotivasi manusia yang berharap untuk mengoptimalkan energinya dalam kegiatan mewujudkan harapan.

Kesimpulan
1. Memiliki muka baru dalam parlemen 2019 adalah HARAPAN dan HARAPAN  itu akan terwujud jika mereka yang bertarung memiliki kebajikan HARAPAN yang rasional.

2. Harapan rasional itu hanya mungkin jika para petarung memiliki HARAPAN pada masa depan lebih benar dan karena itu mereka tidak akan menyesuaikan diri dengan cara berpolitik masa kini.

3. Para petarung adalah agen-agen yang mewujudkan HARAPAN kita semua, diandaikan mereka berpengetahuan dan berkebajikan, jika demikian maka HARAPAN kita dapat terwujud. Petarung harus memberikan dan membuktikan prestasi dan rekam jejak yang optimal.

4. Juga jika mereka gagal mewujudkan HARAPAN karena tidak berpengetahuan dan berwatak lemah, maka setidak-tidaknya kita semua tetap tidak kehilangan HARAPAN.

5. Karena jika semua manusia politisi itu jahat dan harus keluar dari kotak pandora, maka rakyat masih punya HARAPAN untuk Idonesia yang lebih baik. Karena seperti kata Agustinus: ketika suatu rezim gagal mewujudkan kesejahteraan umum, maka mereka sesungguhnya adalah perampok.

Pater Peter C. Aman OFM
(Pastor Moderator DPD Vox Point Indonesia DKI Jakarta).

Catatan Redaksi: Tulisan ini sudah disampaikan oleh penulis saat menjadi narasumber pada acara Diskusi Politik bertajuk "Wajah Baru Parlemen 2019" pada 8 Februari 2019, yang diselenggarakan oleh Vox Point Indonesia DKI Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published By Sahabat KRISTIANI