Headline News

Gereja dan Bencana Manggarai Barat



Vinsen Patno

Matakatolik.com-Peristiwa bencana alam di Manggarai Barat  Kamis, 7  Maret 2019 menyisakan trauma dan detak tangis yang mendalam bagi para korban. Betapa tidak dalam hitungan detik nyawa, rumah hilang seketika. Mungkinkah ini rencana Allah atau karena ulah manusia?

Gereja Keuskupan Ruteng tidak tinggal diam. Dia hadir bagaikan pelita ditengah kegelapan. Gereja hadir sebagai tuan rumah yang membawa sebuah penguatan rohani  dan pencerahan bagi proses pemulihan dan kebangkitan wilayah Manggarai Barat dengan penduduk mayoritas Kristiani.

Bantuan untuk para korban melalui Gereja datang dan mengalir dari mana-mana. Gereja mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan budaya serta pemulihan pasca peristiwa bencana alam dan tanah longsor.

Baca Juga: Vikep Labuan Bajo: Pemulihan Sosial Mengurangi Ketergantugan Korban pada Donasi

Untuk itu Gereja membangun Posko di lokasi bencana dalam rangka berbagi informasi, memetakan situasi dan fakta  lapangan  saat dan pasca bencana serta merekomendasikan kebutuhan dan harapan dari  masyarakat Culu dan Nanga Nae yang menjadi korban bencana.

Paroki yang dekat dengan korban bencana alam menjadi sarana yang dapat memberikan informasi dan gambaran situasi paling akurat saat ini.

Keberadaan kepulauan Flores khususnya Kabupaten Manggarai Barat berada pada wilayah lingkar luar punggung pegunungan dasar laut dan lingkar dalam punggung pegunungan dasar laut dari dua lempeng besar dunia, menunjukkan bahwa Manggarai Barat  adalah wilayah bencana alam parmanen  yang rentan dengan gempa dasyat strategis.

Selain bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi, bentuk bencana lain yang melanda Manggarai Barat adalah banjir, tanah longsor, angin, dan lain-lain.

Dalam peristiwa bencana, tugas dan panggilan diakonia gereja dalam konteks tersebut adalah menolong dan mengurangi penderitaan korban.

Diakonia sesungguhnya bukan saja menyatakan pengasihan kepada korban, tetapi lebih luas lagi mencegah agar jangan bertambah korban-korban baru. Dalam hal ini bagaimana  mempersiapkan umat dan masyarakat agar responsif, serta secara sistematis mengembangkan instrumen-instrumen pelayanan yang dapat mengurangi dampak dari bencana yang terjadi. Artinya, diakonia yang dilakukan bukan saja bersifat karikatif namun diakonia-transformatif dimana korban ditolong dan diberdayakan untuk mampu keluar dari masalah.

Baca Juga: Sant' Egidio Labuan Bajo Berbagi dengan Korban Bencana Tanah Longsor dan Banjir

Tahun Diakonia(Pelayanan)
Dilihat dari buruknya dampak bencana terhadap kehidupan tata ruang fisik, sosial, budaya dan psikososial selama ini, dicatat beberapa masalah utama yang dihadapi masyarakat.

Pertama, masyarakat umum belum memiliki pengetahuan dan pemahaman memadai terhadap bencana,  gejala alam menjelang bencana alam (gempa bumi dan tsunami); pemahaman akan mitigasi (pola hidup, tata dan pengelolaan  lingkungan dan pemukiman;  serta belum dimilikinya sistem peringatan dini bencana.

Kedua, lembaga pemerintah, gereja dan institusi lainnya belum memiliki kemampuan yang memadai dalam merespon bencana terutama yang datang tiba-tiba serta kesiapan melakukan penanggulangan pasca bencana.

Ketiga, pemberian bantuan kemanusiaan terhadap korban bencana belum efektif dan optimal sebagaimana mestinya. Pola “dengan misi tersendiri atau kepentingan tertentu”, yang terjadi dalam proses pemberian bantuan dapat merusak tatanan sosial kekeluargaan dan keutuhan hidup masyarakat  dan di masa mendatang. Keempat, mengedepankan pelayanan(diakonia) gereja terutama dalam menghimpun potensi dan dana bantuan.

Baca Juga:RD Lorens Sopang: Banyak Orang Muda sudah Mengikuti Jalan yang Salah

Terhadap kondisi tersebut ada tiga langkah strategis yang dapat dilakukan bersama, yaitu : Perlunya mengembangkan sistem peringatan dan respons dini bencana. Hal ini  berkaitan dengan kemampuan memahami gejala-gejala alam seperti kondisi tumbuhan serta perilaku hewan darat dan biota laut,  mendorong dan membudayakan perilaku berwawasan bencana, dalam mengelola lingkungan,  menata ruang kehidupan dan penggunaan konstruksi bangunan yang tahan gempa. membangun sistem komunikasi bencana termasuk jaringan kerjasama lintas gereja, agama, sosial dan teritorial dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia, berbagi informasi dan proses penanggulangan pasca bencana;

Memperkuat  komunitas lokal sebagai basis pemberian bantuan atau pelayanan (diakonia). Pembinaan sistematis dalam rangka meningkatkan kesadaran kritis gereja atau lembaga pemberi bantuan dan umat di tingkat lokal agar tidak mengidentikkan atau mengaitkan pekerjaan pelayanan bantuan kemanusiaan dengan praktek-praktek sempit.

Membantu pemerintah dengan cara melakukan penelitian, pendidikan kritis dan format respons sosial berkaitan dengan pembangunan atau pengelolaan tata ruang dan lingkungan yang berwawasan bencana.

Gereja Keuskupan Ruteng

Gereja Keuskupan Ruteng membantu untuk melihat lebih jelas kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, sekaligus kebutuhannya dalam menghadapi bencana, yang datangnya selalu tiba-tiba.

Dengan peristiwa Bencana alam dan tanah longsor yang terjadi di Manggarai Barat gereja hadir untuk melayani  lebih sensitif, efektif dan optimal menarik pelajaran terutama dari pengalaman bencana alam Culu dan Nanga Nae.

Hal ini kembali diangkat untuk menjadi pergumulan bersama ditengah perkembangan kehidupan Manggarai Barat di segala dimensi dengan perubahan pesat yang mengikutinya.

Bencana alam yang terjadi di Manggarai Barat   sesungguhnya telah menguak betapa banyak persoalan yang meliputi  berbagai dimensi kehidupan yang harus disikapi dan dibenahi. 

Baca Juga:Camat Cibal Barat Sebut Menjaga Air Bentuk Tanggungjawab Moral

Pasca bencana berlalu, persoalan bencana, dampak dan keberlanjutannya semestinya bagian yang tidak dilupakan begitu saja, namun tetap terintegrasi dalam setiap perencanaan pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat dan kehidupannya. 

Mengapa, karena bencana dalam berbagai bentuk dan dampaknya adalah bagian dari persoalan gereja dan umat.

Bencana tidak diprediksi kapan datangnya, sehingga adalah bijak mengantisipasi dengan pencegahan dini dan kesiapsiagaan setiap waktu.

Dalam merespon bencana yang terjadi
Gereja merefleksikan bagaimana memandang dan menyikapi alam semesta atau lingkungan hidupnya.

Melaksanakan panggilannya  untuk menjaga dan memelihara alam  agar terjamin kelestariannya dan sekaligus menjadi sumber nafkah yang tak akan habis bagi semua makhluk dan generasi selanjutnya. 

Saat bencana melanda  maka kehadiran gereja  adalah merefleksikan  kebaikan Allah   bagi korban bencana  dalam tahun pelayanan (diakonia).

Baca Juga: Presiden Jokowi Menerima Pengurus PGI di Istana

Gereja berperan menemukan solusi dari masalah yang terjadi, serta berperan strategis dalam pembentukan nilai positif dalam masyarakat melalui pelayanan advokasi dan pesan profetis kerohaniannya.

Gereja berperan  merajut dan menumbuh-kembangkan semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat  yang memudar dan menjadi wadah pemersatu   rasa dan tanggungjawab menanggung beban bersama demi pemulihan kehidupan dan pembangunan wilayah Manggarai Barat yang tertimpa musibah bencana alam dan tanah longsor.

Vinsen Patno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published By Sahabat KRISTIANI