Headline News

Paduka Raja, Kenapa Jogja Lagi, Lagi Jogja?


Matakatolik.com-Telah terjadi perusakan dan pembakaran salib makam oleh orang tak dikenal di kompleks Bethesda Mrican, Jalan Gejayan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019).

Ditemukan nisan kayu salib tercabut dari makamnya, bahkan ada beberapa di antaranya ditemukan dalam kondisi hangus terbakar.

Menangapi perbuatan tak bertanggungjawab dan intoleransi ini, Pater Tuan Kopong MSF di halaman Facebooknya, pada Minggu, 7/4/2019 menulis sebuah pesan buat Paduka Raja yang duduk manis di Singgasana  Kraton Jogja. Berikut pesan lengkap tersebut.

Paduka Raja...

Puluhan tahun lalu, nama Jogja dibawa kepemimpinan seorang raja sangat adem, sejuk dan penuh persaudaraan. Nama Jogja sangat dikenal sebagai kota pelajar, kota budaya dan kota toleransi. Namun itu dulu hanya kenangan yang menyisahkan keindahan yang pernah dialami dan dirasakan.

Paduka Raja...

Rentetan peristiwa tindakan intoleran yang terjadi di Jogja menjadi mendung duka dan kelabu akan nama Jogja yang di sana duduk seorang paduka raja di singgasana keraton, yang hanya dengan sepenggal kata dan bahasa penyejuk, semuanya taat, turut untuk menjaga kesejukan dan kedamaian.

Namun kini sepertinya suara itu tak digubris, suara itu bahkan tak terdengar lantang melawan segala bentuk intoleransi. Suara yang melindungi dan mengayomi seakan terkubur ditengah teriakan kaum bersorban yang bertebaran sambil mengacungkan pentungan seraya meneriakan nama Allah.

Paduka Raja...

Belum usai aksi demo menentang camat Katolik di Bantul, penyerangan yang melukai seorang misionaris dilakukan. Belum sembuh luka itu, pelarangan bakti sosial yang menyakitkan insan berbudi kasih disuarakan. Belum pulih sakit yang diterima, salib simbol iman yang menguatkan dan meneguhkan dipotong. Jenasahpun ditolak, menerima ketidakadilan dari kaum lugu yang telah dirasuki oleh setan beragama. Jenasah yang tak mampu berbicara pun ditolak atas nama mayoritas, mayoritas yang bukannya melindungi minoritas namun justru menindas.

Paduka Raja...

Belum seminggu, penolakan pada sang pelukis atas sepucuk surat yang tak memiliki landasan kemanusiaan, kini salib kembali menjadi korban, sasaran dari insan-insan yang sudah jelas kelakuakn biadabnya. Memelihara sekolompok insan biadab yang hanya merusak nama baik Jogjakarta, yang di sana ada singgasana paduka raja, hanya menjadi onggokan lumpur yang tersu melaburi wajah Jogjakarta.

Paduka Raja...

Salib hanyalah sebuah simbol iman yang tanpa suara merangkai kata dan bahasa. Ia hanya sebuah tanda iman yang tak mengganggu kehidupan orang lain.
Namun ketika hari ini, salib kembali menjad amukan massa biadab mengatasnamakan agama, aku mesti bertanya padamu Paduka Raja; kenapa Jogja lagi, lagi Jogja? Ada apa?

Paduka Raja, hanya sebuah tanya menanti jawab. Aku tak butuh retorika jawaban yang wah...tapi aku menantikan titah dan tindakan paduka. Salam.

Manila: Abril-07-2019
Pater Tuan Kopong MSF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published by Sahabat KRISTIANI