Latest News

Cara Paroki Rawamagun Mencintai Pangan Lokal

Matakatolik.com-Paroki Rawamangun menggelar lomba Tumpeng Non Beras. Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada 16 Oktober 2016 silam. Kendati momentum HPS jatuh pada 16 Oktober silam, namun umat paroki Rawamangun tetap bersemangat. Hal ini tercermin dari kehadiran mereka pada acara yang menampilkan makanan kekhasan nusantara ini. Kegiatan ini bertajuk “Desa Nusantara”, yang dikemas dalalm bentuk lomba tumpeng non beras yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta diwajibkan menampilkan kekhasan makanan lokal dari setiap daerah atau provinsi. Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan kelompok lingkungan dan beberapa sekolah ini, diselenggarakan di aula Betlehem Gereja Keluarga Kudus Rawamangun, Jakarta Timur, pada Minggu, 30/10/2016. Tujuan dari kegiatan ini selain untuk menyadarkan kita bahwa Indonesia memiliki makanan lokal yang sehat dan kaya gizi, juga untuk mewujudkan hidup sehat ramah lingkungan. Hal lain untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang mesti dilestarikan. Pastor Rekan Paroki rawamangun, Romo Yohanes Sutrisno, MSF, kepada Matakatolik, pada Minggu, (30/10/2016) mengatakan kegiatan merupakan cara untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya nusantara khususnya pangan lokal. Karena menurut dia, pangan lokal, selain untuk dijadikan sebagai makanan, juga bisa menjadi produk yang bisa menafkahi hidup para petani. Dia pun mengajak agar senantiasa menyuguhkan makanan lokal di meja makan, karena menurut dia, dengan cara seperti itu, kita semakin mencintai budaya, serta mencintai pangan lokal. “Dengan cara tidak menggunakan kantong plastik berlebihan. Mari, kita mencintai pangan lokal dan perlu menghidangkan makanan di meja makan dengan cara ramah lingkungan, tidak menggunakan kantong plastik berlebihan”, tegas Romo Trisno. Kegiatan ini merupakan cara untuk meningingatkan kepada kita bahwa selain beras, kita masih punya stok makanan non beras yakni pangan lokal”, ujar Lucia Mona Hartari yang tampil sebagai juri. Lanjut Mona, selain kekayaan makanan lokal kegiatan ini juga untuk menyadarkan kita bahwa betapa sulitnya petani menghasilkan makanan. Sehingga dengan adanya acara ini, menurut dia, kita tak seenaknya membuang makanan. Tema Desa yang diangkat panitia, menurut Mona untuk mewakili keberagaman nusantara. Karena, desa merupakan tempat paling pertama kita peroleh makanan dan di desa kita banyak menemukan makanan sehat ramah lingkungan. Lanjut Mona, kegiatan ini berdampak pada inovasi yang inspiratif. Menurutnya, pangan lokal bisa dikelola menjadi banyak makanan yang selama ini asing bagi masyarakat. Misalkan, tutur dia, singkong bisa dijadikan perkedel, dan beraneka ragam kue yang bahan dasarnya dari pangan lokal. Petra Damiana Febriene, mengucapkan terima kasih kepada panitia atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurut dia, kegiatan ini sangat bermanfaat. “Sangat bermanfaat, karena sudah menyegarkan kita dengan pangan lokal. Indonesia kaya makanan. Dengan mencintai pangan lokal berarti kita sudah cinta Indonesia, ujar Petra yang tampil mewakili SMP Taraki. SMP Taraki merupakan juara satu dalam perlombaan ini. Acara ini diselenggarakan berkat kerja sama Seksi Lingkungan Hidup, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Paroki Rawamangun. ERT-Matakatolik

G+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published By Sahabat KRISTIANI