• Latest News

    Jumat, 27 April 2018

    Politisi Gerindra dari Altar Tuhan Menuju Medan Politik


    Ket. Foto: Politisi Gerindra: Haposan Paulus Batubara

    Matakatolik.Com-Haposan Paulus Batubara, umat gereja Katolik St. Yohanes Penginjil-Blok B, menegaskan pelayanan yang total tidak boleh berhenti di Altar saja. Sebagai Prodiakon, Haposan begitu ia disapa, selalu mau bekerja melebih standar yang ada.

    “Saya memberikan diri untuk pelayanan di Altar Tuhan sebagai Prodiakon. Pelayanan tidak boleh berhenti di Altar saja. Pelayanan kita harus melampaui standar yang ada. Setiap orang yang terpanggil untuk melayani harus keluar dari kenyamanan kita. Kita harus merasakan langsung perjuangan orang yang kita layani. Melibatkan diri secara nyata dalam kehidupan masyarakat tentu menjadi lebih bernilai dan bermakna,” jelas pria kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1960 ini.


    Ketua Bidang Humas dan Publikasi Pengurus Pusat  Kristen Katolik Indonesia Raya (KIRA) partai Gerindra ini memutuskan memilih bidang politik sebagai wadah pelayanannya.


    “Selain sebagai  prodiakon, saya juga “bermain” di pasar sebagai politisi sehingga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat,” jelas lulusan Sarjana Hukum Trisakti 1984 ini.


    Politisi Gerindra ini  menjelaskan pada awalnya ia sangat benci politik. Kebencian ini karena ia sering mendengar penilaian orang tentang politik itu kotor. Namun sejak menjadi ketua seksi Kerasulan Awan (Kerawam)-paroki St. Yohanes Penginjil Blok B dua tahun berturut-turut,  ketertarikannya  terhadap politik mulai tumbuh. Ia mulai menyadari apa arti perutusan menjadi Garam dan Terang Dunia.


    “Awalnya saya sangat benci politik. Banyak orang mengatakan politik itu kotor, politik itu gelap. Segala sesuatu yang berbau politik konotasinya selalu kotor. Namun ada titik balik dalam diri saya. Sejak saya dipercayakan sebagai ketua seksi Kerawam, saya sering mengikuti diskusi dan dialog antar agama, diskusi-diskusi politik. Sejak  itulah saya mulai menepis anggapan dan cara pandang  politik itu kotor. Saya jatuh cinta dengan poitik. Saya berpikir mesti ada orang-orang Katolik yang terlibat aktif dalam politik. Saya pun putuskan mulai aktif dipolitik,” cerita mantan ketua seksi Kerawan-paroki St. Yohanes Penginjil Blok B dua Periode ini.


    Menurut anggota Team Bantua Hukum Paroki St. Yohanes Penginjil-Blok B ini, pada perinsipnya politik itu baik dan mulai. Keterlibatan dalam bidang politik mesti dilihat sebagai sebuah panggilan yang suci. Politik itu mengatur kesejahtraan dan kebaikan masyarakat umum (Bonum Commune)

    Maka sebagai orang katolik saya merasa diteguhkan untuk terlibat aktif dalam bidang politik. Keteguhan Haposan dalam politik, karena ia terinspirasi oleh seruan Paus Fransiskus yang mendorong umat Katolik untuk berpartisipasi aktif dalam politik. 


    Dalam homilinya pada 16 September 2013 lalu di Domus Santa Martha, Paus Fransiskus menolak gagasan bahwa “orang Katolik yang baik tidak ikut campur dalam politik.”


    “Itu tidak benar. Itu bukan jalan yang baik,” tegas Bapa Suci, seperti dilaporkan Radio Vatikan.


    “Sorang Katolik yang baik ia hendaknya ikut terlibat dalam bidang politik, dengan memberikan yang terbaik dari dirinya sendiri.”


    “Tak satu pun dari kita mengatakan, saya tidak ada hubungannya dengan politik, mereka yang mengatur,” kata Paus Fransiskus.


    Sebaliknya, ia menekankan umat Katolik harus merasa ikut bertanggung jawab untuk berpartisipasi dalam politik sesuai dengan kemampuan mereka, dan dengan cara ini Anda ikut bertanggung jawab.


    “Berpolitik, sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja, merupakan salah satu bentuk tertinggi dari karya amal, karena melayani kepentingan umum,” jelasnya. “Eh, saya tidak bisa mencuci tanganku? Kita semua harus memberikan sesuatu!”


    Dia mencontohkan bahwa kadang-kadang orang mengkritik pemimpin mereka,  mengeluh tentang ” hal-hal yang tidak berjalan dengan baik.”


    “Jangan  hanya mengeluh, kita harus memberikan diri kita sendiri –  ide-ide kita, saran kita, dan doa-doa kita,” kata Bapa Suci.


    Bertolak dari pernyataan paus Fransiskus ini, Ketua DPP Bidang Agama Katolik partai Gerindra ini, melihat politik sebagai jalan yang sangat strategis untuk memperjuangkan kesejahteraan dan aspirasi masyarakat.


    Bagi Haposan, ruang politik menjadi tempat yang sangat strategis untuk memperjuangkan kesejahtraan rakyat. Jika menginginkan kesejahtraan rakyat, maka aktiflah dalam dunia politik.


    “Jika kita menginginkan suatu perubahan, maka kita harus terlibat di dalam pengambilan kebijakan-kebijakan untuk kesejahtaran tersebut. Bidang politik menjadi jalan yang paling strategis bagi kita untuk terlibat dalam menentukan kebijakan untuk kebaikan bersama (Bonum Commune)  bagi masyarakat,” jelas Ketua Lingkungan Romo Sanjoyo Paroki Yohanes Penginjil Blok B ini.


    Wakil Pemimpin Umum Vox Point Indonesia ini menegaskan dalam berpolitik harus memiliki panduan berpolitik dan kepentingan rakyat menjadi prioritas yang diperjuangkan sehingga tidak mudah jatuh dalam kubangan korupsi.


    “Sebagai orang Katolik, saya memiliki Ajaran Sosial Gereja sebagai panduan dalam memperjuangkan kesejahtraan bersama,” tutup Haposan.


    North



    • Visitor Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Politisi Gerindra dari Altar Tuhan Menuju Medan Politik Rating: 5 Reviewed By: admin
    Scroll to Top
    ×
    vox point