Headline News

ITL Trisakti Berkomitmen Menangkap Peluang Pendidikan Vokasi


Matakatolik.com-Rektor ITL Trisakti Tjuk Sukardiman dengan sigap menanggapi tantangan pendidikan vokasi yang disodorkan pemerintah.

“ITL Trisakti berkepentingan membuka program vokasi karena industri butuh tenaga terampil yang bisa bekerja di lapangan. Dan program vokasi ITL Trisakti sangat mampu menyediakan itu. Dengan program  multy entry multy exit system (MEMES) maka mahasiswa bisa masuk kuliah di ITL Trisakti, lalu setelah satu dua tahun bisa keluar untuk bekerja kembali. Dan saat masuk kembali masa kerjanya itu di-recognize sebagai pengganti sks mata kuliah,” urai Tjuk saat seminar Pendidikan Vokasi yang Mencerahkan di kampus Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) di Jalan IPN No.2, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (20/05).

Lebih lanjut Tjuk mengatakan dengan latar belakang para dosen ITL Trisakti yang sebagian besar merupakan praktisi maupun mantan praktisi di industrinya, maka tidak ada kesulitan untuk mencari dosen berlatar ilmu terapan.

“Tidak ada kesulitan sama sekali, karena semua dosen di ITL Trisakti itu praktisi,” papar Tjuk.

Adapun untuk sementara ITL Trisakti akan memprioritaskan pendidikan vokasi untuk beberapa program studi. Di antaranya program studi Transportasi Laut dan Manajemen Transportasi Udara.

“Prodi Transportasi Laut dan Manajemen Transportasi Udara sangat relevan untuk pendidikan vokasi. Karena kebutuhan untuk tenaga ticketing, mengelola dangerous goods, yang semua membutuhkan tenaga terampil yang bisa dipenuhi dari program pendidikan vokasi di ITL Trisakti,” tegas Tjuk Sukardiman.

Lembaga riset internasional McKinsey Global Institute merilis data bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia pada tahun 2030.

Namun untuk merealisasikan potensi tersebut, Indonesia membutuhkan lebih dari  seratus juta orang tenaga terampil agar bisa menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi di segala bidang.

“Indonesia membutuhkan setidaknya 113 juta orang tenaga terampil agar bisa mencapai potensi tersebut,” ujar Illah Sailah, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III saat membawakan materi seminar.

Illah lebih lanjut memaparkan, tenaga terampil yang dibutuhkan Indonesia bisa dicetak melalui program pendidikan vokasi.

“Pendidikan vokasi mengasah mahasiswa kita agar terampil di bidang tertentu. Berbeda dengan program sarjana yang melatih mahasiswa kita berpikir komprehensif, vokasi ditempa agar dia memahami pekerjaan tertentu,” Illah menerangkan.

Pemerintah sendiri telah mendorong dunia pendidikan untuk menelurkan program pendidikan vokasi di lembaga masing-masing melalui Permenristekdikti No. 54 tahun 2018.

Pada aturan tersebut di pasal 3 disebutkan di antaranya, Pendidikan Vokasi dapat diselenggarakan perguruan tinggi dalam system terbuka dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian pendidikan (multy entry multy exit system (MEMES)).

Illah lebih lanjut menjelaskan, melalui aturan ini, maka mahasiswa program vokasi bisa masuk ke kampus selama 1-2 tahun lalu keluar sejenak untuk bekerja.

“Saat dia keluar sementara itu mahasiswa bersangkutan berhak atas gelar Diploma 1, 2 sesuai lama tahun belajarnya yang kemudian bisa dipakainya untuk melamar bekerja. Selanjutnya jika mahasiswa tersebut berniat melanjutkan kembali pendidikannya maka perguruan tinggi bisa menerima kembali mahasiswa tersebut dan bahkan mengompensasikan masa kerjanya tersebut dengan SKS sesuai bidang keilmuannya,” papar Illah.

Sementara untuk mencetak tenaga terampil tersebut bisa dilakukan di lembaga politeknik, akademi, universitas maupun institut seperti halnya Institut Transportasi dan Logistik Trisakti.  Adapun pendidikan vokasi mensyaratkan dosen yang tak semata memahami teori, namun menguasai aplikasi di lapangan, alias para praktisi di bidangnya masing-masing.

“Memang lembaga pendidikan vokasi harus punya dosen dengan latar ilmu terapan. Di sini masih jarang. Namun bisa diantisipasi dengan memberikan kesempatan dosen bergelar S-2 untuk uji kompetensi. Supaya kita yakin dosen tersebut mendapat kompetensi yang cukup untuk mengajar agar mendapat studi kasus yang lebih banyak sehingga dia mengajar lebih firm,” jelas Illah.

Matakatolik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2018 MATA KATOLIK Designed by Templateism.com and Supported by PANDE

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.
Published by Sahabat KRISTIANI